Tuesday, 16 June 2015

Bertemu Kuntilanak part 8

Hari menjelang siang mayat kedua korban sudah dimandikan dan siap dibawa ke pemakaman umum di dusun lumayan sedikit terpencil itu,dua lubang kubur untuk jasad pak Rt dan pak Gani sudah siap dan acara penguburanpun dilakukan.
baik keluarga,sanak saudara dan orang-orang terdekat korban yang ditinggalkan terharu dengan acara ini,memang sungguh ironis tapi memang nasib seseorang tidak ada yang tahu selain sang Pencipta Alam dan kehidupan ini.

Ilham yang ikut dalam acara penguburan hanya sanggup meneteskan air mata sebab dipikirannya sosok ayahnya yang begitu dia sayangi terbujur kaku dan siap dimasukan kedalam liang lahat,seolah-olah tak percaya dengan semua yang terjadi.

Tiba-tiba langit mendung dan gelap sekali seolah-olah menandakan mau turun hujan,angin berhembus kencang,kencang sekali sampai-sampai seluruh orang yang berada dipemakaman berpegangan dengan pohon bahkan dengan orang terdekat dengan mereka.

Ada apa lagi ini?" Sahut pak Iqbal yang turut serta keacara penguburan,tidak tahu pak!" Jawab yang lain.
Panggil pak Kyai,timpal bu Rt yang dari tadi menangis meratapi kepergian suaminya.

Kebetulan pak Kyai yang sedang memberikan doa sebelum kedua mayat dikuburkan,melihat keadaan sekitar dan warga yang ribut dengan suasana yang sedang terjadi pak kyai menghampiri keluarga korban dan juga pak Iqbal.pak kyai mencoba menenangkan semua warga meminta agar warga tetap tenang dan memanjatkan doa-doa.

Namun angin tersebut semakin kencang dan seperti berputar-putar sama seperti kejadian semalam,ditambah lagi dengan ranting pohon bahkan kayu nisan yang sudah lapuk pun ikut beterbangan karena tak mampu menahan terpaan angin yang semakin hebat dorongannya.
sontak warga gerger dibuatnya dan berhamburan pergi meninggalkan tempat kejadian.air hujanpun turut serta sehingga jelas ini seperti badai besar yang melanda dusun warga.
Pak kyai tetap berdiri dengan berpegangan pada pohon disekitar pemakaman,tutup keranda mayat pun terbang pula sampai-sampai kedua mayat basah karena air hujan,lubang kuburanpun penuh dengan air dan seperti kubangan saja.
hampir tak satupun warga yang bertahan ditempat kecuali pak kyai dan Ilham,Ilham ditarik paksa ibunya untuk segera pergi namun dia menolak dengan alasan dia akan membereskan sesuatu dan menyuruh ibunya agar pergi dahulu mengikuti warga yang lainnya.
Ilham memaksakan diri untuk menghampiri pak kyai dengan sekuat tenaga melawan badai tersebut sampai hampir terbawa terbang,namun dengan cekatan dia memegang batang pohon yang sedang pak kyai pegang juga sebagai penopang.

Pak kyai terus komat-kamit memanjatkan doa lalu melihat Ilham disampingnya lalu menyuruh Ilham untuk segera pergi,namun Ilham enggan pergi melainkan melantunkan suara Adzan,tak lama kemudian badai besar itu tiba-tiba hilang seketika dan keadaan seperti sedia kala.pak kyai berucap syukur lalu memeluk Ilham.

Mari kita lanjutkan menguburkan kedua jasad ini Ham!"pinta pak kyai.
Tapi tunggu sebentar bapak panggil dulu warga supaya datang kembali dan membantu menguburkan.Ilham hanya menganggukan kepala seraya setuju dengan permintaan pak kyai."
Alhamdulillah proses penguburan selesai dan warga meninggalkan tempat kejadian tanpa ada halangan apa-apa lagi,namun kejadian ini menjadi perbincangan hangat antar warga.
Sampai pada sore tiba Ilham yang masih termenung melihat kuburan ayahnya dan masih belum beranjak dari pemakaman sampai akhirnya pak kyai mendekat dan merayu Ilham agar mau pulang kerumah berkumpul bersama ibunya.

Ilham pun kemudian berkata kepada pak kyai itu dan meminta tolong,pak kyai antarkan saya ketempat dimana pertama kali saya dan Roni berteduh di gubuk saat hujan dan saat dikejar-kejar kuntilanak itu.
Pak kyai merasa heran namun menyanggupi perminta tolongan dari anak ini dan merekapun pergi berduaan saja.
Selama diperjalanan pak kyai bertanya kepada Ilham,ada apa sebenarnya,namun ilham hanya diam saja dan tak menjelaskan apa-apa hanya menjawab,nanti disana pak Kyai bisa tahu sendiri.
Sesampainya di gubuk

Bersambung....

No comments:

Post a Comment